INI PILIHAN DIRMAN
(Karya : Nisrina Atikasari)
“Fis, kamu kenapa manyun gitu?” tanya Geo
“Gimana aku nggak sedih Ge, bentar lagi Sudirman mau
ninggalin aku, Bio dan Kim” jawab Fisika
“Oh.. Ya ?? Kenapa Sudirman ninggalin kalian semua ? Dia itu
nggak mungkin ninggalin kalian,” ujar Ekonomi
“Kamu pasti tau Ko alasannya, kamu kan setiap hari selalu
menemani Sudirman. Semenjak dia masuk SMA dia kan lebih sering sama kamu. Nggak
kayak aku dan teman-temanku. Semenjak SMA kita malah sering dianggurin disini.”
jawab Kim panjang lebar
“Ya nggak dong. Aku biasa aja sama kayak kalian. Kalau si
Mate beda, dia kan setiap hari sama si Dirman. Sejak dahulu kala Mate nggak
pernah lepas dari Sudirman. Coba sekarang kamu cari dia ? Nggak ada kan ? Si
Mate emang selalu sama Sudirman kapanpun itu.” Jawab Ekonomi
Di atas
meja tua di sudut kamar Sudirman, Fisika, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi,
Ekonomi, Sosiologi dan Sejarah berjajar dengan rapi. Sudirman sangat sering
menghabiskan waktunya bersama mereka. Sejak kecil ia lebih suka belajar
daripada bermain. Sampai sekarang pun Sudirman tetap rajin belajar. Saat ini ia
sudah duduk di bangku SMA. Genap setahun yang lalu ia mulai belajar di SMA
NEGERI 7 KARANGAN. SMA favorit di kabupaten Karangan. Sudirman sangat menyukai
pelajaran Matematika. Dirman, nama panggilannya, tak pernah bosan berhitung dan
mengutak – atik rumus. Oleh karena itu, Matematika jarang sekali ada di meja.
Kemanapun Dirman pergi pasti ada Mate juga disampingnya.
Pagi
ini Dirman terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. Sejak
setelah sarapan tadi, dia tidak beranjak dari meja belajarnya. Dirman
memandangi Fisika, Biologi dan Kimia. Firasat Fisika bahawa Dirman akan
meninggalkan dia dan teman-temannya dari geng IPA semakin kuat. Biologi pun punya fikiran
yang sama dengan Fisika. Karena Bio kemarin sempat mendengar pembicaraan Dirman
dan kedua orang tuanya sepulang dari pengambilan rapor Dirman. Matematika yang
tidak tahu apa-apa hanya bisa melihat teman-temannya menggalau di sudut kamar.
“Aku yakin aku juga bisa sukses walaupun tidak di jurusan
IPA. Aku ingin mewujudkan cita-citaku.Ya, aku pasti bisa.” gumam Dirman lirih
“Kimi.. kamu dengar kan Dirman ngomong apa ? Dia mau
ninggalin kita Kim, Bi” ucap Fisika
“Hikss.. hiks.. iya Fis. Dirman lebih memilih geng IPS.
Dirman jahat !!!” Biologi menangis dan kesal dengan Sudirman
“Sudahlah teman-teman, kalian jangan sedih. Ini pilihan
Dirman. Dirman nggak bakal lupain kalian kok. Percaya deh sama bang Sos.” Kata
Sosiologi menghibur geng IPA
“Iya tu bang Sos bener. Kita semua sama kok. Kecuali dia tu
!!” tambah Eko sambil menunjuk Matematika yang berada di atas tas Dirman
Sepertinya
keputusan Dirman untuk pindah jurusan sudah bulat. Walaupun dia adalah murid
yang berprestasi di IPA, tapi hatinya lebih memilih IPS. Kalau bicara
penjurusan berdasarkan nilai, tak usah ditanya, Dirman tentu masuk jurusan IPA.
Nilainya penuh sesak dengan angka 9. Namun sejak ia mengenal Ekonomi, hatinya
lebih tertarik dengan Ekonomi dan pelajaran IPS lainnya. Dirman juga sering
menjuarai OSN Ekonomi. Hal inilah yang mendorong Dirman untuk pindah jurusan.
Ia tidak ingin belajar tidak dengan hati. Bagi Dirman belajar itu ibadah.
Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Dan keikhlasan itu akan datang jika hati
kita mau menjalaninya dengan senang tanpa beban.
Keputusan Dirman ini tentu
membuat kedua orang tuanya dan gurunya sangat terkejut. Mereka heran kenapa
anak sepintar Dirman lebih memilih IPS. Kedua orang tua Dirman membujuk Dirman
mati-matian agar Dirman membatalkan niatnya itu. Wali kelas Dirman juga sudah
berpesan agar Dirman tetap di IPA. Tapi apa daya, Dirman tetap tak tergoyahkan.
Suatu sore, Dirman dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tamu.
“Pak, Bu.. kula sampun yakin kalihan keputusan kula.
Kula remen dateng IPS kemawon Pak, Bu. Kula badhe nekuni Ekonomi, kula remen
sinau Ekonomi.” kata Dirman pada kedua orang tuanya
“Yo wis le, Bapak karo
Ibu ora bakal mekso sampean maneh. Bapak karo Ibu kan mung ndampingi anggonmu
nuntut ilmu. Bapak manut opo karepe sampean ae wis. Bapak karo Ibu yakin
sampean sing paling ngerti endi sing paling apik kanggo sampean” Jawab
Bapak Dirman
“Inggih Pak, kula
nyuwun doane nggih, mugi mugi pilian kula niki pilian ingkang bener.
Pangestunipun nggih Pak, Bu.” tambah
Dirman
“Iyo le, Ibu lan Bapak
ora bakal lali ndongo kanggo sampean. Sing penting sampean yo kudu tenanan lek
sekolah. ” Jawab Ibu Dirman
“Inggih Bu” balas
Dirman
Dirman
sudah meminta ijin dari kedua orang tuanya bahwa ia benar – benar yakin untuk
pindah ke IPS. Bapak dan Ibu Dirman pun menyetujui keputusan Dirman. Dirman
lega dan sangat bersyukur. Dia bertekad untuk bersungguh-sungguh menjalani
pilhannya ini.
“Fis, Bi, Kim.. kalian baik-baik aja kan disana ? Dirman
nggak jahat kan? Buktinya dia tidak membuang kalian. Dia tetap menyimpan dan
menata rapi kalian di sana walaupun dia sekarang anak IPS. Meskipun kita
sekarang nggak satu meja, tapi kan kita tetap satu kamar. Ya kan ? ” kata
Sosiologi pada geng IPA
“Hmm, iya bang. Kita bersyukur banget nggak dilupain sama
Dirman.” ujar Fisika
“Dirman itu memang cowok yang berbeda. Dia sangat tekun dan
selalu ingin belajar. Dia juga tidak pernah mengeluh. Walaupun kita, geng IPA, sering sekali membuat Dirman pusing tujuh
keliling. Hehehe.. ” tambah Biologi
“Iya Bi, Dirman tidak pernah membenci kita walaupun kita
kadang menyebalkan. Dirman malah sangat sayang sama kita semua. Aku juga sayang
sekali sama Dirman. Aku yakin dia pasti sukses.” kata Kimia
“Ya ya.. syukurlah teman-temanku geng IPA sudah baik-baik
aja. Aku lega kalau kalian nggak sedih lagi. Semoga kita semua selalu bahagia.
Ya, minimal seperti si Mate yang selalu bahagia bersama Dirman. Kalian setuju ?
” ucap Ekonomi
“Halahh.. kamu ini Ko, kenapa sih selalu iri sama si Mate.
Nggak usah lah iri kayak gitu. Dirman kan emang lebih suka Mate daripada kamu.
Terima kenyataan dong !” ketus Geografi
“Ehh.. siapa bilang? Dirman itu sayangnya cuma sama aku.
EKONOMI.” Jawab Eko
Ekonomi
terus saja tidak mau tersaingi oleh Matematika. Iya sangat ingin Dirman lebih
menyayanginya. Tapi pada kenyataannya Dirman memang menyukai keduanya. Ya,
kalau begini adanya si Eko tidak akan pernah suka sama si Mate. Mereka pasti
selalu bentrok gara-gara Dirman. Tapi nggak bakalan ada perang rumus deh,
karena si Mate orangnya sabar dan cuek. Dia nggak pernah mau ribut sama Eko. Jadi
Mate nggak pernah yang namanya nanggepin dengan serius ucapan maupun tingkah
lakunya si Ekonomi.
“Eh Mat.. gimana perasaanmu ? Pasti kamu sedih kan Dirman
juara lagi gara-gara aku ? Ya kan ? Udahlah Mat.. kamu itu nggak usah deketin
Dirman lagi. Biar aku aja. Dirman pasti sukses kok sama aku.” Kata Ekonomi pada
Mate pagi itu
“Apa sih Ko? Aku biasa aja tu. Aku nggak sedih. Aku justru
seneng Dirman juara OSN Ekonomi lagi. Ya nggak bisa dong Ko, asal kamu tau aja
ya. Ekonomi itu tidak akan bisa berjalan kalau tanpa aku. Jadi kalau kamu minta
aku jauhin Dirman, ya kamu juga harus siap nggak disayang lagi sama Dirman.
Gimana ? ”jawab Mate dengan santainya
“Ishh, awas aja kamu Mat” ucap Eko dengan kesal
Tak
disangka dua tahun sudah berlalu. Dirman kini telah menutup lembaran putih
abu-abunya. Dan tentunya ia tidak akan lagi berada di meja tua kesayangannya
setiap hari. Dirman pun membereskan mejanya dan menyimpan buku-buku SMA-nya
kedalam kardus bekas mie instan. Koper yang akan ia bawa juga sudah siap.
Kamarnya pun sudah ditata rapi. Dirman tak ingin melukiskan keburukan di tempat
teristimewanya ini. Kamar tidur dengan meja tua di sudutnya beserta semua
penghuninya yang berjajar rapi disana.
Dirman pasti akan sangat merindukan suasana tempat ini.
Sore nanti Dirman akan berangkat
ke negeri Paman Sam untuk melanjutkan studinya. Kini sudah waktunya Dirman
berpisah dengan para sahabatnya.Mereka yang selalu menemani hari-hari
Dirman. Mereka yang selalu menyayangi
Dirman. Mereka yang hanya bisa berbicara tanpa pernah Dirman mendengarnya.
“Terimakasih ya teman-temanku, berkat kalian aku bisa lulus
SMA sekarang. Kalian semua adalah teman sejatiku.” Kata Dirman pada buku-buku kesayangannya.
SELESAI