Rabu, 22 April 2015

Ini Pilihan Dirman **cerpen**

INI PILIHAN DIRMAN
(Karya : Nisrina Atikasari)

“Fis, kamu kenapa manyun gitu?” tanya Geo

“Gimana aku nggak sedih Ge, bentar lagi Sudirman mau ninggalin aku, Bio dan Kim” jawab Fisika

“Oh.. Ya ?? Kenapa Sudirman ninggalin kalian semua ? Dia itu nggak mungkin ninggalin kalian,” ujar Ekonomi

“Kamu pasti tau Ko alasannya, kamu kan setiap hari selalu menemani Sudirman. Semenjak dia masuk SMA dia kan lebih sering sama kamu. Nggak kayak aku dan teman-temanku. Semenjak SMA kita malah sering dianggurin disini.” jawab Kim panjang lebar

“Ya nggak dong. Aku biasa aja sama kayak kalian. Kalau si Mate beda, dia kan setiap hari sama si Dirman. Sejak dahulu kala Mate nggak pernah lepas dari Sudirman. Coba sekarang kamu cari dia ? Nggak ada kan ? Si Mate emang selalu sama Sudirman kapanpun itu.” Jawab Ekonomi

                Di atas meja tua di sudut kamar Sudirman, Fisika, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Sejarah berjajar dengan rapi. Sudirman sangat sering menghabiskan waktunya bersama mereka. Sejak kecil ia lebih suka belajar daripada bermain. Sampai sekarang pun Sudirman tetap rajin belajar. Saat ini ia sudah duduk di bangku SMA. Genap setahun yang lalu ia mulai belajar di SMA NEGERI 7 KARANGAN. SMA favorit di kabupaten Karangan. Sudirman sangat menyukai pelajaran Matematika. Dirman, nama panggilannya, tak pernah bosan berhitung dan mengutak – atik rumus. Oleh karena itu, Matematika jarang sekali ada di meja. Kemanapun Dirman pergi pasti ada Mate juga disampingnya.

                Pagi ini Dirman terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. Sejak setelah sarapan tadi, dia tidak beranjak dari meja belajarnya. Dirman memandangi Fisika, Biologi dan Kimia. Firasat Fisika bahawa Dirman akan meninggalkan dia dan teman-temannya dari geng  IPA semakin kuat. Biologi pun punya fikiran yang sama dengan Fisika. Karena Bio kemarin sempat mendengar pembicaraan Dirman dan kedua orang tuanya sepulang dari pengambilan rapor Dirman. Matematika yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melihat teman-temannya menggalau di sudut kamar.

“Aku yakin aku juga bisa sukses walaupun tidak di jurusan IPA. Aku ingin mewujudkan cita-citaku.Ya, aku pasti bisa.” gumam Dirman lirih
“Kimi.. kamu dengar kan Dirman ngomong apa ? Dia mau ninggalin kita Kim, Bi” ucap Fisika
“Hikss.. hiks.. iya Fis. Dirman lebih memilih geng IPS. Dirman jahat !!!” Biologi menangis dan kesal dengan Sudirman
“Sudahlah teman-teman, kalian jangan sedih. Ini pilihan Dirman. Dirman nggak bakal lupain kalian kok. Percaya deh sama bang Sos.” Kata Sosiologi menghibur geng IPA
“Iya tu bang Sos bener. Kita semua sama kok. Kecuali dia tu !!” tambah Eko sambil menunjuk Matematika yang berada di atas tas Dirman


                Sepertinya keputusan Dirman untuk pindah jurusan sudah bulat. Walaupun dia adalah murid yang berprestasi di IPA, tapi hatinya lebih memilih IPS. Kalau bicara penjurusan berdasarkan nilai, tak usah ditanya, Dirman tentu masuk jurusan IPA. Nilainya penuh sesak dengan angka 9. Namun sejak ia mengenal Ekonomi, hatinya lebih tertarik dengan Ekonomi dan pelajaran IPS lainnya. Dirman juga sering menjuarai OSN Ekonomi. Hal inilah yang mendorong Dirman untuk pindah jurusan. Ia tidak ingin belajar tidak dengan hati. Bagi Dirman belajar itu ibadah. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Dan keikhlasan itu akan datang jika hati kita mau menjalaninya dengan senang tanpa beban.

Keputusan Dirman ini tentu membuat kedua orang tuanya dan gurunya sangat terkejut. Mereka heran kenapa anak sepintar Dirman lebih memilih IPS. Kedua orang tua Dirman membujuk Dirman mati-matian agar Dirman membatalkan niatnya itu. Wali kelas Dirman juga sudah berpesan agar Dirman tetap di IPA. Tapi apa daya, Dirman tetap tak tergoyahkan. Suatu sore, Dirman dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tamu.

“Pak, Bu..  kula sampun yakin kalihan keputusan kula. Kula remen dateng IPS kemawon Pak, Bu. Kula badhe nekuni Ekonomi, kula remen sinau Ekonomi.” kata Dirman pada kedua orang tuanya
Yo wis le, Bapak karo Ibu ora bakal mekso sampean maneh. Bapak karo Ibu kan mung ndampingi anggonmu nuntut ilmu. Bapak manut opo karepe sampean ae wis. Bapak karo Ibu yakin sampean sing paling ngerti endi sing paling apik kanggo sampean” Jawab Bapak Dirman
“Inggih Pak, kula nyuwun doane nggih, mugi mugi pilian kula niki pilian ingkang bener. Pangestunipun nggih Pak, Bu.”  tambah Dirman
Iyo le, Ibu lan Bapak ora bakal lali ndongo kanggo sampean. Sing penting sampean yo kudu tenanan lek sekolah. ” Jawab Ibu Dirman
“Inggih Bu” balas Dirman

                Dirman sudah meminta ijin dari kedua orang tuanya bahwa ia benar – benar yakin untuk pindah ke IPS. Bapak dan Ibu Dirman pun menyetujui keputusan Dirman. Dirman lega dan sangat bersyukur. Dia bertekad untuk bersungguh-sungguh menjalani pilhannya ini.
“Fis, Bi, Kim.. kalian baik-baik aja kan disana ? Dirman nggak jahat kan? Buktinya dia tidak membuang kalian. Dia tetap menyimpan dan menata rapi kalian di sana walaupun dia sekarang anak IPS. Meskipun kita sekarang nggak satu meja, tapi kan kita tetap satu kamar. Ya kan ? ” kata Sosiologi pada geng IPA

“Hmm, iya bang. Kita bersyukur banget nggak dilupain sama Dirman.” ujar Fisika
“Dirman itu memang cowok yang berbeda. Dia sangat tekun dan selalu ingin belajar. Dia juga tidak pernah mengeluh. Walaupun kita,  geng IPA,  sering sekali membuat Dirman pusing tujuh keliling. Hehehe.. ” tambah Biologi
“Iya Bi, Dirman tidak pernah membenci kita walaupun kita kadang menyebalkan. Dirman malah sangat sayang sama kita semua. Aku juga sayang sekali sama Dirman. Aku yakin dia pasti sukses.” kata Kimia
“Ya ya.. syukurlah teman-temanku geng IPA sudah baik-baik aja. Aku lega kalau kalian nggak sedih lagi. Semoga kita semua selalu bahagia. Ya, minimal seperti si Mate yang selalu bahagia bersama Dirman. Kalian setuju ? ” ucap Ekonomi
“Halahh.. kamu ini Ko, kenapa sih selalu iri sama si Mate. Nggak usah lah iri kayak gitu. Dirman kan emang lebih suka Mate daripada kamu. Terima kenyataan dong !” ketus Geografi
“Ehh.. siapa bilang? Dirman itu sayangnya cuma sama aku. EKONOMI.”  Jawab Eko

                Ekonomi terus saja tidak mau tersaingi oleh Matematika. Iya sangat ingin Dirman lebih menyayanginya. Tapi pada kenyataannya Dirman memang menyukai keduanya. Ya, kalau begini adanya si Eko tidak akan pernah suka sama si Mate. Mereka pasti selalu bentrok gara-gara Dirman. Tapi nggak bakalan ada perang rumus deh, karena si Mate orangnya sabar dan cuek. Dia nggak pernah mau ribut sama Eko. Jadi Mate nggak pernah yang namanya nanggepin dengan serius ucapan maupun tingkah lakunya si Ekonomi.
“Eh Mat.. gimana perasaanmu ? Pasti kamu sedih kan Dirman juara lagi gara-gara aku ? Ya kan ? Udahlah Mat.. kamu itu nggak usah deketin Dirman lagi. Biar aku aja. Dirman pasti sukses kok sama aku.” Kata Ekonomi pada Mate pagi itu
“Apa sih Ko? Aku biasa aja tu. Aku nggak sedih. Aku justru seneng Dirman juara OSN Ekonomi lagi. Ya nggak bisa dong Ko, asal kamu tau aja ya. Ekonomi itu tidak akan bisa berjalan kalau tanpa aku. Jadi kalau kamu minta aku jauhin Dirman, ya kamu juga harus siap nggak disayang lagi sama Dirman. Gimana ? ”jawab Mate dengan santainya
“Ishh, awas aja kamu Mat” ucap Eko dengan kesal

                Tak disangka dua tahun sudah berlalu. Dirman kini telah menutup lembaran putih abu-abunya. Dan tentunya ia tidak akan lagi berada di meja tua kesayangannya setiap hari. Dirman pun membereskan mejanya dan menyimpan buku-buku SMA-nya kedalam kardus bekas mie instan. Koper yang akan ia bawa juga sudah siap. Kamarnya pun sudah ditata rapi. Dirman tak ingin melukiskan keburukan di tempat teristimewanya ini. Kamar tidur dengan meja tua di sudutnya beserta semua penghuninya yang berjajar rapi disana.  Dirman pasti akan sangat merindukan suasana tempat ini.

Sore nanti Dirman akan berangkat ke negeri Paman Sam untuk melanjutkan studinya. Kini sudah waktunya Dirman berpisah dengan para sahabatnya.Mereka yang selalu menemani hari-hari Dirman.  Mereka yang selalu menyayangi Dirman. Mereka yang hanya bisa berbicara tanpa pernah Dirman mendengarnya.

“Terimakasih ya teman-temanku, berkat kalian aku bisa lulus SMA sekarang. Kalian semua adalah teman sejatiku.” Kata Dirman pada buku-buku kesayangannya.
              

  SELESAI






Tidak ada komentar:

Posting Komentar